Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Tunjangan Kinerja Kemenag 2016 Naik?

Perpres No 154 Tahun 2015 telah resmi dirilis. Benarkah Tukin atau Remunerasi Kemenag naik? Berapa besar kenaikannya? Kapan Tukin Kemenag cair? Mungkin itu beberapa pertanyaan yang muncul di pikiran Bapak/Ibu sekalian.

Tunjangan Kinerja atau Remunerasi PNS pertama kali diperkenalkan oleh Sri Mulyani, selaku Menteri Keuangan, pada tahun 2007.

Sri Mulyani telah melakukan perombakan besar-besaran berupa reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Keuangan. Siapapun, para pengguna layanan dari Kementerian Keuangan, pasti telah merasakan hasil reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Keuangan.

Hasil reformasi birokrasi paling nyata yang sangat terasa adalah adanya layanan bebas biaya/tanpa pungutan bagi Kantor-kantor Pelayanan di lingkungan Kementerian Keuangan.

Selain itu, pelayanan juga menjadi lebih singkat dengan tata cara pelayanan yang jauh lebih kepada customer oriented. Pelayanan yang tadinya berminggu-minggu bisa disingkat menjadi 1 hari bahkan jam.

Salah satu contoh yang paling nyata, dulu saat mengajukan pembayaran di KPPN, butuh waktu 1 mingguan sampai dengan uang cair ke rekening bendahara pengeluaran. Selain itu, untuk mempercepat proses, biasanya ada uang pelicin yang diminta oleh oknum pegawai di sana.

Reformasi birokrasi telah mempersingkat pelayanan di KPPN dan juga telah membebaskan lingkungan KPPN dari praktik-praktik pungli.

Isi Perpres 154 Tahun 2015
Secara umum, isi Perpres No 154 Tahun 2015 tidak jauh berbeda dengan Perpres tentang Tunjangan Kinerja lainnya.

Yang diatur dalam Perpres ini masih seputar Siapa Pegawai yang diberikan Tukin, Pegawai yang tidak diberikan tukin, Besarnya tukin, pajak penghasilan, penetapan kelas jabatan, perlakuan terhadap pegawai yang telah menerima tunjangan profesi, dan ketentuan peralihan.

Menurut Perpres 154 Tahun 2015, kenaikan Tukin Kemenag terhitung mulai bulan November 2015 sehingga bakalan ada rapel kekurangan tunjangan kinerja bagi para pegawai Kemenag.


Berapa Besaran Kenaikan Tukin Kemenag 2016 Sesuai Perpres 154 Tahun 2015?

Kenaikan Tukin Kemenag Tahun 2016 telah disetujui oleh Menteri Keuangan dengan diterbitkannya Surat Menteri Keuangan kepada Menpan RB Nomor SR-2478/MK.02/2015 tanggal 8 Desember 2015.

Di dalam surat tersebut, Menteri Keuangan memberikan persetujuan Kenaikan Tunjangan Kinerja 20 Kementerian/Lembaga dimana kenaikan tunjangan kinerja terhitung mulai tanggal 1 November 2015. Itu artinya, akan ada rapel kekurangan tunjangan kinerja bagi 20 K/L, termasuk rapel Kekurangan Tukin Kemenag.

Sebelumnya, Kemenpan RB telah mengusulkan kenaikan tukin 22 K/L, termasuk 20 K/L yang disetujui di SR-2478/MK.02/2015. Ringkasan 22 K/L yang direncanakan Naik Tukinnya di tahun 2016 adalah:
  1. Kenaikan Tukin Kemenlu 2016
  2. Kenaikan Tukin Kemendagri 2016
  3. Kenaikan Tukin Kemendikbud 2016
  4. Kenaikan Tukin Kemenag 2016
  5. Kenaikan Tukin Kemen PUPR 2016
  6. Kenaikan Tukin Kementerian PPA 2016
  7. Kenaikan Tukin Kemenristekdikti 2016
  8. Kenaikan Tukin BNN 2016
  9. Kenaikan Tukin BKKBN 2016
  10. Kenaikan Tukin LAPAN 2016
  11. Kenaikan Tukin BKPM 2016
  12. Kenaikan Tukin LKPP 2016
  13. Kenaikan Tukin Setjen MK 2016
  14. Kenaikan Tukin Setjen KY 2016
  15. Kenaikan Tukin Basarnas 2016
  16. Kenaikan Tukin BSN 2016
  17. Kenaikan Tukin BPOM 2016
  18. Kenaikan Tukin Lemhanas 2016
  19. Kenaikan Tukin Lembaga Sandi Negara 2016
  20. Kenaikan Tukin BNP2TKI 2016
  21. Kenaikan Tukin BIN 2016
  22. Kenaikan Tukin KPU 2016


Selanjutnya pada tanggal 28 Desember 2015, Presiden Jokowi telah menandatangani Perpres Kenaikan tukin Kemenag yaitu Perpres Nomor 154 Tahun 2015.

Adapun besaran Tukin Kemenag sesuai dengan Lampiran Perpres 154 Tahun 2015 adalah:




Jika dibandingkan dengan Perpres 108 Tahun 2015, maka kenaikan tukin kemenag 2016 sebagai berikut:


Grade
Tukin Perpes 154 2015
Tukin Perpres 108 2014
Kenaikan
17
22.842.000
19.360.000
3.482.000
16
17.413.000
14.131.000
3.282.000
15
12.518.000
10.315.000
2.203.000
14
9.600.000
7.529.000
2.071.000
13
7.293.000
6.023.000
1.270.000
12
6.045.000
4.819.000
1.226.000
11
4.519.000
3.855.000
664.000
10
3.952.000
3.352.000
600.000
9
3.348.000
2.915.000
433.000
8
2.927.000
2.535.000
392.000
7
2.618.000
2.304.000
314.000
6
2.399.000
2.095.000
304.000
5
2.199.000
1.904.000
295.000
4
2.082.000
1.814.000
268.000
3
1.972.000
1.727.000
245.000
2
1.867.000
1.645.000
222.000
1
1.766.000
1.563.000
203.000


Demikianlah kenaikan Tunjangan Kinerja Kemenag sesuai dengan Perpres 154 Tahun 2015. Selamat kepada para ASN Lingkup Kemenag, semoga kenaikan Tukin ini berimplikasi kepada meningkatnya Kinerja para ASN.

Sapar Tak Pernah Bermimpi Dapat Hadiah Awal Tahun dari Bupati Bantaeng

(Bantaeng, Kemenag ) - Sabtu tanggal 2 Januari 2016 merupakan hari keberuntungan bagi Saparuddin salah seorang staf Kantor Kemenag Kab. Bantaeng beserta keluarga, betapa tidak, dari ratusan peserta gerak jalan kerukunan (Gerjakun) dalam rangka memeriahkan HAB ke-70 Kemenag RI yang diselenggarakan oleh Kantor Kemenag Bantaeng bekerjasama dengan Pemkab Bantaeng dan FKUB Kab. Bantaeng, ternyata nomor kupon keberuntungan yang dipegangnya yaitu: 3992 terpilih sebagai pemenang atas 1 buah sepeda motor sebagai hadiah utama door price disamping hadiah umrah dari Pemkab Bantaeng, Terlebih hadiah sepeda motor tersebut adalah hadiah dari Bapak Bupati Bantaeng Prof. Dr.Ir.H.M.Nurdin Abdullah, M.Agr sebagai door prize utama pada acara Gerjakun memperingati HAB ke-70 Kemenag RI tahun 2016 di Kab. Bantaeng.

Sungguh tak dapat diungkapkan dengan kata-kata perasaan pak Saparuddin saat itu, raut muka bahagia penuh haru terpancar jelas di wajah mantan staf KUA Ulu Ere yang kini ditugaskan di Sub. Bag TU Urusan Umum Kantor Kemenag Kab. Bantaeng ini

Puluhan penerima hadiah hiburan lainnya seakan tenggelam oleh riuh dan sorak para kerabat dan pendukung Saparuddin, Tribun Pantai Seruni seakan menjadi panggung Dangdut Akademi dimana Saparuddin terpilih sebagai juaranya.

Semua mata dan lensa kamera langsung tertuju kepadanya, Wajah Saparuddin sontak menghiasi layar gadget para netizen, ada yang langsung meng-upload ke jejaring sosial, adapula yang hanya menyimpannya sebagai koleksi.

Dan tibalah hari yang berbahagiah itu, di hari upacara HAB ke-70 Kemenag RI Tahun 2016, Ahad tanggal 3 Januari 2016 dimana seluruh Kantor Kementerian Agama di Indonesia merayakannya secara serentak, bertempat di Gedung Balai Kartini Kab. Bantaeng, menjadi hari bersejarah bagi Saparuddin dan keluarga karena mendapat kado istimewa awal tahun dari Bapak Bupati Bantaeng berupa 1 buah sepeda motor.

Selamat buat pak Saparuddin beserta keluarga atas hadiah yang diterima, semoga lebih semangat dan lebih termotivasi dalam menjalankan tugas sebagai abdi negara di lingkungan Kantor Kemenag Bantaeng. (hum)

Fenomena Lebaran Kembar

(Mahdi, Kemenag Bantaeng) – Fenomena yang sering terjadi di Indonesia dan mungkin di belahan dunia yang lain ketika Lebaran Idul Fitri maupun Idul Adha adalah ketika terjadi lebaran kembar.

Demikian pula Idul Adha 1436 H/2015 M kali ini, bagaikan taqdir yang tak dapat ditolak, Lebaran Kembar pun tak dapat dielakkan, dimana Pemerintah RI setelah melalui Sidang Itsbat telah menetapkan 1 Zulhijjah 1436 H jatuh pada hari Selasa tanggal 15 September 2015 sehingga Lebaran Idul Adha jatuh pada hari Kamis Tanggal 24 September 2015, sementara salah satu Ormas terbesar di negeri ini sebutlah Muhammadiyah jauh sebelumnya melalui Maklumat PP Muhammadiyah tanggal 28 April 2015 telah menetapkan Idul Adha 1436 H  jatuh pada hari Rabu tanggal 23 September 2015.
Penetapan Hari Raya Idul Adha 1436 H oleh Pemerintah RI kali ini senada dengan Pemerintah Arab Saudi yang telah menetapkan pelaksanaan Wukuf jatuh pada hari Rabu, 23 September 2015, dan Hari Raya Idul Adha jatuh pada Kamis, 24 September 2015. Keputusan ini diambil Pemerintah Arab Saudi setelah Lembaga Pemantau Hilal Kerajaan melakukan pengamatan terhadap peredaran bulan. Dalam pengamatan yang dilakukan pada Minggu, 13 September 2015, hilal sebagai tanda jatuhnya 1 Zulhijjah 1426 Hijriah belum terlihat. sehingga Pemerintah Arab Saudi menggenapkan bulan  Zulkaedah 30 hari dan menetapkan 1 Zulhijjah jatuh pada hari Selasa, 15 September 2015.

Kontroversi pun bermunculan, bahkan di tubuh Persyarikatan Muhammadiyah sendiri pun sempat muncul Maklumat Pimpinan Daerah setempat yang isinya bertentangan dengan Keputusan Pimpinan Pusat sehubungan dengan Penetapan Hari Raya Idul Adha 1436 H, meskipun kemudian disusul dengan Maklumat baru yang menggugurkan Maklumat sebelumnya dan kembali mengikuti titah Pimpinan Pusat.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa, secara personality warga persyarikatan maupun simpatisan mulai meragukan validitas metode hisab yang diyakini keakuratannya selama ini, apalagi muncul propaganda dari komunitas muslim lain bahwa Shalat Idul Adha yang dilaksanakan hari ini (Rabu, 23/9/15, red) bahkan mendahului wukuf di Arafah. Tak ayal jamaah hisab pun berkurang, masjid-masjid yang biasanya buka untuk menampung simpatisan Muhammadiyah kali ini tutup dan lebih memilih berlebaran ikut Pemerintah RI maupun Pemerintah Arab Saudi.

Tak ada yang salah dari Metode Hisab Hakiki yang dianut Muhammadiyah, hanya saja kebetulan penentuan Idul Adha Muhammadiyah kali ini berbeda dengan hasil pemantauan hilal pemerintah Arab Saudi. Pemerintah RI pun pernah di unfollow oleh banyak pendukungnya ketika hasil pengamatan hilal oleh Pemerintah RI berbeda dengan hasil pengamatan hilal di Arab Saudi, dan metode Hisab pun naik daun karena penetapan Idul Adha oleh Pimpinan Muhammadiyah waktu itu bertepatan dengan Idul Adha di Arab Saudi.

Dari Fenomena tersebut diatas, persoalan yang menjadi sentra permasalahan sebenarnya adalah adanya 2 metode penentuan awal bulan Hijriyah, yaitu metode Hisab dan Rukyatul Hilal, yang keduanya berlandaskan pada dalil yang kuat, namun perbedaan yang muncul kemudian akan menimbulkan egoisme dari para pendukung awamnya yang tanpa kita sadari akan berpotensi memecah belah ummat.

Jika saja ada semacam lembaga katakanlah MUI yang dapat menyatukan perbedaan yang muncul dari hasil keputusan kedua metode tersebut, niscaya Lebaran akan lebih Indah dan inilah Rahmat yang sesungguhnya





Muktamar NU dan Muhammadiyah: “Sinergi Berkemajuan”

Bak gayung bersambut, dua organisasi massa (Ormas) berbasis komunitas muslim terbesar di Indonesia pada Bulan Agustus 2015 ini menyelenggarakan Muktamar, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. NU menyelenggarakan Muktamar ke-33 pada 1 – 5 Agustus 2015 di Jombang, Jawa Timur. Sementara Muhammadiyah menyelenggarakan Muktamar ke-47 pada 3 – 7 Agustus 2015 di Makassar. Agenda utama pertemuan besar lima tahunan itu adalah untuk memilih nakhoda baru masing-masing organisasi untuk periode 2015-2019 dan membahas berbagai hal-hal strategis terkait kebijakan internal organisasi, persoalan keummatan dan kehidupan bangsa di masa depan.

Muhammadiyah lebih dulu berdiri, yaitu pada 18 November 1912 M (8 Dzulhijjah 1330 H) di Kauman, Yogyakarta.  Sementara NU didirikan 14 tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H) di Surabaya. Pendiri Muhammadiyah  adalah Kyai Haji Ahmad Dahlan atau yang dikenal dengan nama asli Muhammad Darwis dari kota santri Kauman Yogyakarta. Sementara NU didirikan oleh K.H. Hasyim Asy'ari dari Jombang Jawa Timur. Dalam sejarahnya, kedua-duanya sering disebut-sebut pernah belajar pada guru yang sama dan bertemu pada satu silsilah keluarga yang sama (tulisan ini tidak membahas masalah ini).

Basis Muhammadiyah berada di komunitas santri Kauman Yogyakarta yang masyarakat di wilayah sekitarnya masih kental dengan budaya Jawa Keraton. Sementara Basis komunitas NU berada di Jawa Timur yang kental dengan budaya pesantren atau seperti yang dibilang oleh Cliffort Geertz sebagai masyarakat dengan identitas “santri-priyayi-abangan”. Ada stereotype bahwa komunitas NU dipersepsikan sebagai komunitas “santri bersarung” yang banyak diikuti oleh masyarakat pedesaan tradisionalis, sementara Muhammadiyah berbasis komunitas modernis yang banyak diikuti oleh masyarakat perkotaan. Sunguh pun demikian, identitas “tradisionalis-modernis” belakangan ini barangkali sudah tidak relevan lagi untuk dihadap-hadapkan (apalagi dibenturkan). Terlepas dari benar tidaknya identifikasi itu, saya menyebut kedua organisasi massa terbesar itu sebagai ormas Islam dengan “dua identitas, satu tujuan”.
Sesuai dengan basisnya dan latar belakang berdirinya masing-masing ormas tersebut, Muhammadiyah menegaskan diri sebagai organisasi pembaharu (gerakan tajdid) dan menebarkan semangat berkompetisi secara sehat dengan slogan “fastabiqul khairat” (berlomba-lomba dalam kebaikan), sementara NU menegaskan diri dengan slogan: memelihara budaya lama yang baik dan menciptakan hal baru yang lebih baik (al-muhafadzatu ala qadiimisshaleh wal akhdu biljadidil aslah). Dua ormas dengan identitas khasnya masing-masing itu, pada dasarnya satu tujuan, yaitu mendorong terwujudnya kemajuan umat, bangsa dan negara melalui bidang pendidikan, keagamaan dan sosial-ekonomi. NU banyak menghasilkan lembaga-lembaga pendidikan pesantren dengan kajian “kitab kuningnya” yang kaya, sementara Muhammadiyah banyak menghasilan lembaga-lembaga pendidikan madrasah/sekolah berkualitas serta panti sosial atau rumah sakit.

Artikel ini tidak bermaksud membandingkan perbedaan antara kedua ormas tersebut dengan tujuan mencari kelemahannya, sebaliknya bertujuan untuk mencari titik temu bagaimana kedua ormas dengan basis massa terbesar di Indonesia itu semakin dapat bersinergi dengan gaya khasnya masing-masing dalam mengantarkan kemajuan umat dan bangsa di tengah kehidupan masyarakat yang beragam dan cenderung semakin mengglobal.

Dua Tema, Satu Motivasi: Kemajuan Umat Islam dan Bangsa
NU dalam Muktamarnya mengangkat tema: “Meneguhkan Islam Nusantara Untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Berdasarkan penjelasan resmi panitia Muktamar NU (dapat diunduh di sini), sebatas yang dapat saya pahami, Islam Nusantara bukanlah madzhab atau aliran yang berusaha mereduksi Islam itu sendiri. Tema ini justru berusaha menghadirkan esensi ajaran Islam yang dapat “membawa rahmat untuk semua” (rahmatan lil ‘alamiin) dengan tetap memperhatikan “kearifan lokal” (lokal jenius) yang tidak bertentangan dengan esensi ajaran Islam itu sendiri. Sebagaimana tertulis dalam petikan dokumen tersebut mengenai tema muktamar, panitia muktamar menjelaskan bahwa:
“Karakter Islam Nusantara menunjukkan adanya kearifan lokal di Nusantara yang tidak melanggar ajaran Islam, namun justru menyinergikan ajaran Islam dengan adat istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Indonesia. Kehadiran Islam tidak untuk merusak atau menantang tradisi yang ada. Sebaliknya, Islam datang untuk memperkaya dan mengislamkan tradisi dan budaya yang ada secara tadriji (bertahap). Bisa jadi butuh waktu puluhan tahun atau beberapa generasi. Pertemuan Islam dengan adat dan tradisi Nusantara itu kemudian membentuk sistem sosial, lembaga pendidikan (seperti pesantren) serta sistem Kesultanan. Tradisi itulah yang kemudian disebut dengan Islam Nusantara, yakni Islam yang telah melebur dengan tradisi dan budaya Nusantara”.

“…Islam Nusantara dimaksudkan sebuah pemahaman keislaman yang bergumul, berdialog dan menyatu dengan kebudayaan Nusantara, dengan melalui proses seleksi, akulturasi dan adaptasi. Islam nusantara tidak hanya terbatas pada sejarah atau lokalitas Islam di tanah Jawa. Lebih dari itu, Islam Nusantara sebagai manhaj atau model beragama yang harus senantiasa diperjuangkan untuk masa depan peradaban Indonesia dan dunia. Islam Nusantara adalah Islam yang ramah, terbuka, inklusif dan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa dan negara. Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, sub-kultur, dan agama yang beragam. Islam bukan hanya cocok diterima orang Nusantara, tetapi juga pantas mewarnai budaya Nusantara untuk mewujudkan sifat akomodatifnya yakni rahmatan lil ‘alamin”.
Sementara Muktamar Muhammadiyah 2015 kali ini, mengangkat tema “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan”. Menurut Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yunahar Ilyas (cnnindonesia.com, 3/8/2015), Melalui Muktamar ini, Muhammdiyah berharap dapat mewujudkan tiga gerakan pencerahan, yakni gerakan pembebasan, pemberdayaan dan pemajuan. "Kami ingin membebaskan umat dari segala macam hal yang menghambat kemajuan seperti kemisikinan dan korupsi. Pemberdayaan kami lakukan melalui pendidikan dan memajukan ilmu pengetahuan," demikian kata Yunahar dalam media tersebut. PP Muhammadiyah ingin Indonesia tidak sekedar negara yang aman, makmur dan adil tapi juga berdaya saing dengan negara-negara lain, terutama di anggota-anggota ASEAN, demikian ia melanjutkan sebagaimana dikutip dalam media itu.

Hal itu sejalan dengan motivasi yang melatarbelakangi berdirinya Muhammadiyah yang disemaikan oleh Pendirinya, Kyai Dahlan. Sepulang Beliau dari Arab Saudi dan interaksinya selama bermukim di sana serta bacaan-bacaan atas atas karya-karya para pembaru pemikiran Islam seperti Ibn Taimiyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha, benih-benih ide pembaruan itu tertanam dalam diri Kyai Dahlan. Hal inilah yang kemudian mendorong Kyai Dahlan justru membawa ide dan gerakan pembaruan ke tanah air sepulang Beliau dari bermuim di Arab Saudi, bukan malah menjadi konservatif (muhammadiyah.or.id).

Hemat saya, perbedaan karakteristik antara Muhammadiyah dan NU mesti disikapi sebagai “rahmat”, bukan sebaliknya sebagai “petaka sosial”. Perbedaan persepsi atas “Islam Nusantara”, stereotype konservatif dan Islam Pembaharu, semestinya dijadikan sebagai kekayaan bangsa dalam mengejar  kemajuan. Perbedaan mengenai masalah furuiyyah seperti jumlah bilangan shalat tarawih, bacaan do’a qunut, dan penetapan Idul Fitri semestinya sudah bukan persoalan utama lagi. Tantangan umat saat ini adalah bagaimana meningkatkan kualitas Sumber Daya Umat (SDU) dan bangsa Indonesia yang mayoritas berpenduduk Muslim dapat hidup layak secara sosial, ekonomi dan pendidikan di tengah persaingan dunia yang semakin kompetitif dengan tetap bersandar atas pondasi iman.

Karena itu, saya berharap NU dalam Muktamar kali ini mampu melahirkan ide-ide kreatif yang lebih baik (al-jadidil ashlah) seperti slogannya, sehingga mampu memecahkan problem-problem mendasar untuk kemajuan Islam Indonesia dan dunia di masa depan. Ribuan pesantren baik yang secara langsung berafiliasi dengan NU atau tidak, dapat dijadikan sebagai basis pemberdayaan umat dalam bidang pendidikan, sosial dan ekonomi sekaligus sebagai perekat budaya bangsa khas Islam Nusantara yang disuarakan. Gerakan ekonomi pesantren semestinya  menjadi agenda penting yang patut diberdayakan dan menjadi agenda strategis dalam Muktamar kali ini. Itulah salah satu tantangan riil yang mesti dipecahkan oleh NU, baik secara jama’ah (komunitas), maupun secara jami’yyah (organsiasi) di masa depan. Dakwah bil hal (dakwah dengan tindakan) melalui pemberdayan dalam bidang sosial ekonomi semacam itu, kiranya lebih efektif jika dibandingkan dengan dakwah bil lisan (dakwah dengan ucapan).

Demikian halnya dengan Muhammadiyah yang telah lahir seabad yang lalu (1912). Secara historis, gerakan-gerakan pembaharuannya muncul bersinergi dengan era Kebangkitan Nasional waktu itu, seperti dengan gerakan era Boedi Oetomo. Pembaharu dalam konteks “pemurnian” tauhid dengan tema pembebasan TBC (Tahayyul, Bid’ah, dan Khurofat) sudah sangat tepat jika dewasa ini difokuskan pada tiga gerakan pembebasan yang menjadi pesan sentralnya, yaitu: gerakan pembebasan, pemberdayaan dan pemajuan. Saya berharap, kehadiran Muhammadiyah saat ini mampu menunjukkan diri sebagai kekuatan pembaharu yang semakin bermanfaat dalam bidang pendidikan, sosial, dan terutama ekonomi yang gagasan-gagasan dan tindakan pembaharuannya dapat diterima oleh komunitas yang lebih luas.

Jika dua organisasi Islam terbesar di Indonesia itu (NU dan Muhammadiyah) dalam Muktamarnya yang berlangsung hampir bersamaan pada bulan Agustus 2015 kali ini dapat saling bersinergi, bukanlah hal yang mustahil suatu saat nanti umat Islam dan bangsa indonesia akan tercerahkan, seperti matahari yang terang dan bumi yang makmur dan damai. Dua identitas, satu tujuan yang saling melengkapi. Selamat bermuktamar untuk NU dan Muhammadiyah. Semoga keduanya makin bersinergi dalam Berkemajuan!

(Di petik dari tulisan sahabat Kompasiana Bapak M. Yunus).

Gerhana Bulan Total

Akan terjadi pada hari Sabtu tanggal 14 Jumadil Akhir 1436H atau 4 April 2015 pad pukul 19:01 WIB di seluruh wilayah Indonesia.

Mengimbau umat Islam untuk:
1. Melakukan shalat sunnah gerhana secara berjamaah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW dan dianjurkan untuk bertakbir terlebih dahulu.
2. Memperbanyak zikir, doa, istighfar, sedekah, dan melakukan amal-amal kebajikan lainnya.