Kakan Kemenag Minta Ibu-Ibu DWP Tampung Tamu Porseni PGRI Tingkat Sulsel di Bantaeng

(Humas Kemenag Bantaeng) - Kakan Kemenag Bantaeng H. Anwar Abubakar, S.Ag, M.Pd hadir pada acara arisan DWP Kantor Kemenag Bantaeng, yang digelar sore tadi di Aula Kantor Kemenag Bantaeng.

Acara yang digelar setiap hari jum'at pada minggu kedua setiap bulannya ini, dihadiri oleh puluhan ibu-ibu istri pegawai lingkup Kantor Kemenag Bantaeng, yang terdiri dari istri pegawai, guru, dan penyuluh.

Kakan Kemenag dalam arahannya juga menyempatkan untuk meminta kesediaan ibu-ibu DWP Kemenag Bantaeng untuk menampung tamu-tamu dari 24 Kabupaten/Kota Se Sulawesi Selatan yang akan berlomba pada PORSENI PGRI tingkat Provinsi 21-25 November mendatang.

Pada PORSENI tingkat Provinsi Sulsel yang akan digelar selama kurang lebih hari di Kota Butta Toa Bantaeng nan indah ini diperkirakan akan dihadiri oleh ribuan peserta dari seluruh Kabupaten/Kota se Sulsel, olehnya itu Kakan Kemenag telah berkoordinasi dengan pihak Diknas Kabupaten sebagai 2 institusi pewadah guru-guru di Kabupaten ini dalam hal persiapan penyambutan tamu-tamu pendidik anak bangsa yang akan menggelar event akbar di Kab. Bantaeng ini

Sebelum meninggalkan ruang Aula Kantor Kemenag Bantaeng, Kakan Kemenag yang didaulat pula untuk membacakan do'a di acara para kaum hawa ini kembali mengingatkan dan menaruh harapan besar kepada ibu-ibu anggota DWP Kemenag Bantaeng untuk bersedia menampung tamu-tamu sesama Korps Pegawai Kemenag se Sulsel dan menghimbau agar menjadi tuan rumah yang baik pada perhelatan akbar PORSENI PGRI Tingkat Provinsi Sulsel yang tak lama lagi segera digelar.

 








Kemenag Bantaeng Gandeng BRI Dalam Pendistribusian Bantuan PIP

(Humas Kemenag Bantaeng) - Kantor Kementerian Agama Kab. Bantaeng melalui seksi PD Pontren telah melakukan pendataan ke sejumlah Pondok Pesantren Salafiyah (PPS) yang ada di Bantaeng atas santri-santri yang berhak menerima manfaat Program Indonesia Pintar yang telah dicanangkan pemerintah.

Dari data yang diperoleh terjaringlah sejumlah 103 santri dari 3 PPS yang ada di Kab. Bantaeng yang memenuhi persyaratan sesuai yang ditetapkan dalam juknis yaitu: PPS Khairul Ummah yang terletak di Karampung Bella Desa Patallassang, Kec. Tombobulu sebanyak 39 santri, PPS Al Ihsan yang terletak Jl. Lingkar Bonto Atu Kec. Bissappu sebanyak 27 santri, dan PPS Ulul Azmi yang terletak di Senea, Desa Bonto Tallasa, Kec. Uluere sebanyak 35 santri.

Program Indonesia Pintar (PIP) ini berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI No.14 Tahun 2015 tentang Pedoman Program Indonesia Pintar yang isinya tentang penyediaan dan penyaluran Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden  RI No. 7 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Program Simpanan Keluarga Sejahtera, Program Indonesia Pintar, dan Program Indonesia Sehat.

Keberadaan BRI Cabang Bantaeng ini adalah sebagai mitra bagi Kemenag Bantaeng dalam menyalurkan bantuan kepada para calon penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP) khusunya bagi santri Pondok Pesantren Salafiyah (PPS) dalam bentuk pembukaan rekening Simpanan Pelajar.

Dengan  adanya Program Indonesia Pintar (PIP) yang telah dicanangkan Pemerintah ini, diharapkan dapat membantu para siswa/santri kurang mampu dalam mengikuti proses belajar mengajar di sekolah khususnya Pondok Pesantren.



Seksi Penmad Kemenag Bantaeng Gelar Rakor Secara Maraton

(Humas Kemenag Bantaeng) - Kantor Kementerian Agama Kab. Bantaeng melalui Seksi Pendidikan Madrasah baru-baru ini menggelar Rakor yang bertajuk Rapat Koordinasi dan Evaluasi Kinerja Guru RA, MI, MTs dan MA Penerima TF Tahun 2015, di Aula Kantor Kemenag Bantaeng.

Acara yang melibatkan sebanyak 510 guru Madrasah Penerima Tunjangan Fungsional lingkup Kementerian Agama Kab. Bantaeng ini dilaksanakan secara maraton yaitu tanggal 21, 22, 25, 26 dan 28 September 2015 dengan nara sumber terdiri dari Kepala Kantor Kemenag Bantaeng H. Anwar Abubakar, S.Ag, M.Pd, Kasi Pendidikan Madrasah Drs. H. A. Muh. Baedawi, MM dan Pengawas Madrasah H. Marzuki, S.Ag, MM.

Menurut Kasi Pendidikan Madrasah H.A. Muh Baedawi, Rapat Koordinasi yang digelar Seksi Pendidikan Madrasah ini dilaksanakan selama 5 hari dimaksudkan supaya Rakor dapat berjalan lebih efektif mengingat jumlah guru yang diundang sebanyak 510 orang yang terdiri guru RA, MI, MTs dan guru MA penerima Tunjangan Fungsional. se Kab. Bantaeng.

Adapun Materi yang dibawakan oleh para nara sumber diatas adalah sebagai berikut:

- Kebijakan Kementerian Agama tentang Pendidikan pada Madrasah oleh Kakan Kemenag
- Penjelasan Tentang UUD No 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional oleh Kasi Penmad
- Penjelasan Tentang UUD No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen oleh Kasi Penmad
- PP No. 74 Tahun 2008 Tentang Guru oleh Kasi Penmad
- Keputusan Dirjen Pendis No. 1022 Tahun 2015 Tentang Juknis Pemberian Subsidi Tunjangan Fungsional
   bagi Guru non PNS oleh Kasi Penmad
- Administrasi Pembelajaran oleh Pengawas Madrasah (H. Marzuki)



















Fenomena Lebaran Kembar

(Mahdi, Kemenag Bantaeng) – Fenomena yang sering terjadi di Indonesia dan mungkin di belahan dunia yang lain ketika Lebaran Idul Fitri maupun Idul Adha adalah ketika terjadi lebaran kembar.

Demikian pula Idul Adha 1436 H/2015 M kali ini, bagaikan taqdir yang tak dapat ditolak, Lebaran Kembar pun tak dapat dielakkan, dimana Pemerintah RI setelah melalui Sidang Itsbat telah menetapkan 1 Zulhijjah 1436 H jatuh pada hari Selasa tanggal 15 September 2015 sehingga Lebaran Idul Adha jatuh pada hari Kamis Tanggal 24 September 2015, sementara salah satu Ormas terbesar di negeri ini sebutlah Muhammadiyah jauh sebelumnya melalui Maklumat PP Muhammadiyah tanggal 28 April 2015 telah menetapkan Idul Adha 1436 H  jatuh pada hari Rabu tanggal 23 September 2015.
Penetapan Hari Raya Idul Adha 1436 H oleh Pemerintah RI kali ini senada dengan Pemerintah Arab Saudi yang telah menetapkan pelaksanaan Wukuf jatuh pada hari Rabu, 23 September 2015, dan Hari Raya Idul Adha jatuh pada Kamis, 24 September 2015. Keputusan ini diambil Pemerintah Arab Saudi setelah Lembaga Pemantau Hilal Kerajaan melakukan pengamatan terhadap peredaran bulan. Dalam pengamatan yang dilakukan pada Minggu, 13 September 2015, hilal sebagai tanda jatuhnya 1 Zulhijjah 1426 Hijriah belum terlihat. sehingga Pemerintah Arab Saudi menggenapkan bulan  Zulkaedah 30 hari dan menetapkan 1 Zulhijjah jatuh pada hari Selasa, 15 September 2015.

Kontroversi pun bermunculan, bahkan di tubuh Persyarikatan Muhammadiyah sendiri pun sempat muncul Maklumat Pimpinan Daerah setempat yang isinya bertentangan dengan Keputusan Pimpinan Pusat sehubungan dengan Penetapan Hari Raya Idul Adha 1436 H, meskipun kemudian disusul dengan Maklumat baru yang menggugurkan Maklumat sebelumnya dan kembali mengikuti titah Pimpinan Pusat.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa, secara personality warga persyarikatan maupun simpatisan mulai meragukan validitas metode hisab yang diyakini keakuratannya selama ini, apalagi muncul propaganda dari komunitas muslim lain bahwa Shalat Idul Adha yang dilaksanakan hari ini (Rabu, 23/9/15, red) bahkan mendahului wukuf di Arafah. Tak ayal jamaah hisab pun berkurang, masjid-masjid yang biasanya buka untuk menampung simpatisan Muhammadiyah kali ini tutup dan lebih memilih berlebaran ikut Pemerintah RI maupun Pemerintah Arab Saudi.

Tak ada yang salah dari Metode Hisab Hakiki yang dianut Muhammadiyah, hanya saja kebetulan penentuan Idul Adha Muhammadiyah kali ini berbeda dengan hasil pemantauan hilal pemerintah Arab Saudi. Pemerintah RI pun pernah di unfollow oleh banyak pendukungnya ketika hasil pengamatan hilal oleh Pemerintah RI berbeda dengan hasil pengamatan hilal di Arab Saudi, dan metode Hisab pun naik daun karena penetapan Idul Adha oleh Pimpinan Muhammadiyah waktu itu bertepatan dengan Idul Adha di Arab Saudi.

Dari Fenomena tersebut diatas, persoalan yang menjadi sentra permasalahan sebenarnya adalah adanya 2 metode penentuan awal bulan Hijriyah, yaitu metode Hisab dan Rukyatul Hilal, yang keduanya berlandaskan pada dalil yang kuat, namun perbedaan yang muncul kemudian akan menimbulkan egoisme dari para pendukung awamnya yang tanpa kita sadari akan berpotensi memecah belah ummat.

Jika saja ada semacam lembaga katakanlah MUI yang dapat menyatukan perbedaan yang muncul dari hasil keputusan kedua metode tersebut, niscaya Lebaran akan lebih Indah dan inilah Rahmat yang sesungguhnya